Model

Model

Model
Pematangsiantar

Menguap, Kepemimpinan Diktator KadisKes Siantar “Telan Dua Korban”…? DPRD Akan Gelar RDP

15
×

Menguap, Kepemimpinan Diktator KadisKes Siantar “Telan Dua Korban”…? DPRD Akan Gelar RDP

Sebarkan artikel ini

SIANTAR – DIAN24NEW 

Menguap ! Gaya kepemimpinan “diktator” Kepala Dinas Kesehatan (KadisKes) Kota Pematang Siantar drg Irma Suryani MKM diduga “telan korban”…?. Menyikapi hal ini, DPRD Kota Pematang Siantar, khususnya Komisi I DPRD Siantar berencana akan melaksanakan gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan Kota Pematang Siantar

Model

Pemimpin diktator terkesan sangat keras dan memiliki persepsi negatif bagi orang yang dipimpinnya. Tentulah hal tersebut tidak diinginkan oleh seorang pemimpin. Namun pada kenyataannya, sosok pemimpin itu juga ada dalam lingkungan kerja di Pemko Pematang Siantar dan telah merasuki dalam manajemen di salah satu kantor Dinas di lingkungan Pemko Siantar. 

Sosok pemimpin yang diktator tidak selalu sosok terkesan keras dari penampilan, namun juga dapat dimiliki oleh sosok yang terkesan lembut dari penampilan. Oleh karena itu, sosok pemimpin yang diktator dapat terlihat dari beberapa karateristik yang dimilikinya.

Soal kasus bunuh diri, Renova Suryani Panjaitan (38), ASN Dinas Kesehatan Pemko Siantar yang diketahui sebagai istri oknum Polisi, ternyata masih menjadi perbincangan negatif berbagai pihak. Bahkan, informasi itu terus menyebar liar.

Liarnya informasi dimaksud karena korban yang bunuh diri di bagian dapur  rumahnya, Perumahan Pondok Indah Naga Huta, Kecamatan Siantar Sitalasari Kota Pematang Siantar, Rabu (1/11/2023) itu, disebut-sebut karena tekanan kerja di Dinas Kesehatan Kota Pematang Siantar.  

Beredarnya informasi miring itu mengatakan bahwa Oknum Kadis Kesehatan Siantar yang baru pemimpin “Diktator”, dimana baru dua bulan menjabat Kadis  Kesehatan Siantar, sudah dua orang ASN Dinas Kesehatan Kota Pematang Siantat meninggal  dunia tidak wajar, karena “stres”.Satu orang diantaranya ASN tersebut meninggal karena bunuh diri, atas nama Renova Suryani Panjaitan. 

“Oknum ASN yang bunuh diri itu istri Polisi, dimana, seminggu sebelum peristiwa…suami tidak lagi mengijinkan istri nya mengantar anak ke sekolah, karena kondisi sang istri punya pikiran beban berat soal tugas – tugas dikantor,” ucap salah seorang oknum ASN di Dinkes Siantar yang menjadi sumber dan meminta namanya tak disebutkan. 

Sambungnya,  ASN  lain nya yang meninggal Karena sakit. Menurut sejumlah sumber yang layak dipercaya dari sejumlah ASN di Dinkes Siantar.Kata nya, almarhum masa hidup nya keadaan sakit, ingin minta cuti mau berobat ke Penang (Malaysia), namun sang oknum Kadis “Diktator” tersebut, tidak memberikan izin cuti kepada almarhum,” terangnya.

“ASN Dinas Kesehatan Siantar yang meninggal karena sakit itu bernama Mangatur Br Siringo-Ringo. Almarhum meninggal 2 bulan lalu.,” imbuhnya

Mendengar informasi liar ini, Komisi I DPRD Siantar berencana gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan. Sehingga, informasi negatif  yang berkembang  tidak simpang siur dan memojokkan Pemko Siantar, hingga akhirnya bermuara kepada Wali Kota, dr Susanti Dewayani. Sementara, anggaran belanja untuk pegawai di lingkungan Pemko cukup besar . 

“Ya, kita  mengetahui dari berbagai media bahwa korban bunuh diri karena tekanan kerja setelah dimutasi kebagian Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P). Itu juga pernyataan dari suami korban,” kata Andika Prayogi Sinaga SE, Ketua Komisi I, membidangi Kesehatan, Kamis (2/11/2023) 

Kalau informasi negatif yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan itu terus berkembang liar dan korban memang mengalami depresi sehingga mengambil jalan pintas mengakhiri hidup dengan bunuh diri,  itu sangat disesalkan. 

“Secara kejiwaan, mental keluarga dan anak-anak korban yang masih kecil bisa terganggu. Untuk itu, kita akan meminta Dinas Kesehatan menjelaskan dengan jujur pada RDP yang akan kita jadwalkan,” kata Andika Prayogi. 

Lebih lanjut, Andika Prayogi juga sudah meminta keterangan secara pribadi kepada  sejumlah ASN lingkungan Dinas Kesehatan untuk dibawa pada RDP. Tidak usah dulu saya beberkan data yang sudah kita kumpul. Semua akan kita pertanyakan pada RDP,” katanya. 

Terpisah, Ilhamsyah Sinaga juga dari Komisi I membenarkan masalah bunuh diri dimaksud sedang diperbincangkan Komisi I dan masyarakat kota Pematang Siantar. Untuk itu, menyatakan sependapat agar permasalahannya dibahas melalui RDP dengan Dinas Kesehatan. 

Ilhamsyah juga mengaku sudah menelusuri informasi bagaimana pola kerja pada Dinas Kesehatan. Kesimpulan sementara yang diperolehnya, kuat dugaan bahwa pola kerja yang dilakukan para ASN memang memberatkan. 

Saat RDP yang akan dijadwalkan nanti, Ilhamsyah Sinaga minta agar pihak Dinas Kesehatan  membeberkan bagaimana pola kerja yang dilakukan ASN dengan jujur. Apalagi beredar informasi  bahwa ASN pada Dinas Kesehatan itu banyak merasa tidak nyaman melaksanakan tugas. Antara lain soal cuti sebagai hak dari ASN yang dipersulit. 

“Yang saya selusuri, ketidaknyamanan pegawai, juga termasuk soal waktu kerja. Sehingga, ada sejumlah ASN ingin pindah kerja ke OPD lain dipersulit. Bahkan, ada yang sakit. Jadi, kita ingin mengetahui ada apa sebenarnya pada Dinas Kesehatan itu,” katanya. 

Sebagai mitra Dinas Kesehatan, Komisi I DPRD Siantar pastinya melakukan pengawasan agar para ASN benar-benar mendapatkan hak sesuai dengan regulasi yang ada. “Jadi, kita ingin mengetahui  bagaimana pola kerja Dinas Kesehatan itu,” ujar Ilhamsyah Sinaga mengakhiri. 

Sementara, sejumlah personel Komisi I lainnya menyatakan sependapat agar kasus bunuh diri pegawai Dinas Kesehatan dan berbagai dinamika yang berkembang segera dibahas melalui RDP.  Terlebih soal banyak informasi negatif yang masih tersembunyi di balik peristiwa bunuh diri Renova Suryani Panjaitan  (38). Sehingga, akan diketahui secara terbuka dan dapat menjadi pembelajaran bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain di Pemko Siantar. 

Seperti diberitakan, pertama kali menemukan korban tergantung, suaminya sendiri, Jefri Gultom yang bertugas sebagai Polisi di Polres Simalungun. Tergantung di bagian dapur rumahnya,  kompleks  Perumahan Pondok Indah Naga Huta, Kelurahan Setia Negara, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar, Rabu (1/11/2023) sekira jam 06.10 Wib. 

Selanjutnya, dievakuasi ke ruang jenazah RSUD Djasamen saragih Kota Siantar. Sementara, keterangan suami korban kepada pihak  kepolisian mengatakan,  bulan Mei 2023 lalu sejak dimutasi atau dipindahkan dipindahkan  Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota  Siantar, korban seperti berubah sikap. 

Selain selalu pulang lama-lama dengan alasan pekerjaan sangat padat, korban tidak sempat mengurus sekolah anak-anak dan rumah tangga. Bahkan korban dikatakan sering merenung seperti melamun di rumah dan di tempat pekerjaannya. 

Menyikapi perubahan itu, suami korban sempat mengatakan, “Kalau memang tidak betah di pekerjaannya, biar diurus. Namun korban menjawab sudah saya urus, tapi tidak berhasil,” kata kepolisian melalui keterangan pers seperti perkataan suami korban. 

Karena pihak keluarga meyakini meninggal karena bunuh diri, jenazah korban dibawa pihak keluarga  ke kampung halaman suaminya di Desa Gajah, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan untuk dimakamkan. (sn)

 

Editor.      :    Taman Haloho