SIANTAR I DIAN24NEW.COM
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, S.H., M.Kn diwakili Staf Ahli Bidang Pembangunan Muhammad Hamdani Lubis, S.H membuka kegiatan Seminar Sehari bertema ‘Membangun Jiwa Kepemimpinan dan Nasionalisme’ yang diikuti para tokoh agama.
Seminar digelar di Gedung Serbaguna Pemko Pematangsiantar, Jalan Merdeka, Sabtu 18/7/2026.
Hadir sebagai narasumber Sekjen GKPS Pdt. Dr. Janhotner Saragih, Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar Drs. H. Rasyid Nasution, dan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Simalungun Dr. H. Bahrum Saleh, M.A. Dengan moderator Pdt. Tri Putri Saragih,S.Th.
Wesly dalam sambutan tertulis yang dibacakan Hamdani menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Sinode Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), khususnya Departemen Kesaksian, yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.
“Seminar ini merupakan langkah yang sangat baik untuk memperkuat semangat kepemimpinan, persaudaraan, toleransi, serta rasa cinta tanah air di tengah keberagaman masyarakat Kota Pematangsiantar,” katanya.
Ia menyebut Kota Pematangsiantar sebagai kota majemuk yang dihuni berbagai suku, agama, dan budaya. “Keberagaman ini adalah kekuatan yang harus terus kita rawat. Melalui forum seperti ini, saya berharap terbangun dialog yang sehat, saling menghormati, serta semangat kebersamaan dalam menjaga persatuan dan kerukunan antar umat beragama,” sebutnya.
Menurut Wesly, kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin organisasi, tetapi juga menjadi teladan di keluarga, lingkungan, tempat ibadah, dan masyarakat. Sementara nasionalisme harus diwujudkan melalui tindakan nyata seperti menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah serta bangsa.
Ia juga mengajak tokoh agama menjadi mitra strategis pemerintah dalam membina umat, menjaga kerukunan, serta menanamkan nilai moral dan kebangsaan kepada generasi muda.
“Saya berharap kegiatan ini menghasilkan pemikiran dan komitmen bersama yang bermanfaat bagi pembangunan karakter kepemimpinan dan semakin memperkokoh semangat nasionalisme di Kota Pematangsiantar,” tuturnya.
Wesly juga berpesan agar terus meningkatkan predikat Indeks Kota Toleran di Pematangsiantar, sehingga dapat menduduki peringkat pertama IKT.
Pimpinan Sinode GKPS diwakili Sekjen GKPS Pdt. Janhotner Saragih mengatakan kepemimpinan dan kerukunan umat beragama harus selaras di Kota Pematangsiantar.
“Pematangsiantar kita sebut sebagai miniatur Indonesia, yang terdiri dari berbagai latar belakang. Perbedaan bukan untuk memisahkan atau membangun tembok-tembok pemisah, tapi justru menjadi karunia Tuhan untuk semakin mempererat persaudaraan kita,” terangnya.
Ia menegaskan melalui seminar ini pihaknya mendukung cita-cita Pemko Pematangsiantar di bawah kepemimpinan Wesly Silalahi agar ke depan kota menjadi benar-benar aman, damai, dan penuh kesejahteraan.
Dalam sesi seminar, Sekjen GKPS Pdt. Janhotner Saragih membawakan materi “Kepemimpinan, Persaudaraan, Keberagaman”. Rasyid Nasution menyampaikan “Merawat Kebhinekaan dan Membangun Indonesia”. Sementara Bahrum Saleh membahas “Keberagaman sebagai Kekuatan Bangsa”.
Dari seminar disimpulkan beberapa poin penting:
1. Keberagaman adalah keuntungan bersama, bukan tembok pemisah.
2. Menjadi pemimpin adalah alat dan kesempatan untuk mensejahterakan rakyat.
3. Perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk bergandengan tangan dalam kebaikan.
4. Stop rasisme, kita semua bersaudara di bawah payung NKRI.
5. Jadikan keberagaman sebagai anugerah, bukan alasan memecah belah persatuan.
6. Saling tolong-menolong tanpa memandang latar belakang SARA dalam menghadapi persoalan.
7. Hubungan vertikal urusan pribadi dengan Tuhan, hubungan horizontal harus dirawat dan pastikan tidak ada yang direndahkan.
8. Menjadi baik tidak harus sempurna secara formal agama, namun bermanfaat bagi orang lain.
Pemko Pematangsiantar berharap, melalui sinergi pemerintah dan tokoh agama, Pematangsiantar tetap menjadi kota yang aman, damai, dan harmonis. (ril/th)







