SIANTAR I DIAN24NEW.com
Di tengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri, Kota Pematamgsiantar kini menghadapi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan, salah satunya adalah permasalahan sampah. Tumpukan sampah kini menjelma menjadi “gunung-gunung” di tempat pembuangan akhir (TPA), membentuk lanskap buatan yang berbahaya dan mematikan.
Istilah gunung sampah bukan lagi sekadar kiasan. Tumpukan sampah yang menggunung, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar. Tumpukan sampah yang menggunung tidak hanya dipenuhi truk pengangkut, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mengais rezeki dari barang bekas.
Hasil pantauan dian24new di lokasi, Sabtu (23/8/2025) siang, deretan truk besar dan kecil terlihat keluar-masuk menuangkan sampah ke area TPA. Petugas kebersihan lalu mengoperasikan tiga unit alat berat eskavator untuk mengorek dan memindahkan sampah ke titik yang lebih jauh, sebelum akhirnya diratakan kembali.
Pemandangan lain yang tak kalah mencolok, puluhan warga—dari orang tua hingga anak-anak—ikut serta mengais barang bekas di sekitar tumpukan sampah yang baru diturunkan. Mereka dikenal dengan sebutan pencari barang bekas “botot”.
Siburian, salah seorang tenaga harian lepas (THL) yang telah 30 tahun bekerja di lokasi tersebut mengungkapkan, dirinya bersama rekan-rekan hanya digaji Rp 92 ribu per hari.
“Segitulah semua yang kami terima, tidak ada tambahan tunjangan lain,” ujarnya sambil didampingi marga Saragih dan Tarigan.
Meski rambutnya sudah memutih, Siburian tetap setia dengan pekerjaannya. “Dulu tempat ini masih hutan. Saya pun sebenarnya sudah pensiunan, tapi bukan pensiunan PNS,” katanya sembari berkelakar.
Di sisi lain, juru timbang Dinas Kebersihan, Raya Simanjuntak, menerangkan volume sampah dari seluruh wilayah Kota Pematangsiantar rata-rata mencapai lebih dari 100 ton per hari.
“Armada yang kita operasikan ada 50 unit, roda empat dan roda enam. Semuanya bekerja tanpa libur setiap hari,” terangnya didampingi marga Saragih Sumbayak.
Raya menambahkan, perawatan kendaraan dilakukan melalui bengkel rekanan di Jalan Parapat dan Jalan Sangnawaluh, sementara pengisian bahan bakar diarahkan ke SPBU Jalan Rakuta Sembiring.
Kondisi TPA Tanjung Pinggir yang terus menggunung kini menjadi alarm serius bagi pemerintah kota. Jika tak segera dicarikan solusi jangka panjang, persoalan sampah di Pematangsiantar dikhawatirkan kian sulit ditangani. (JS)







