SIMALUNGUN I DIAN24NEW.COM
Namanya diabadikan menjadi RSUD di Pematangsiantar. Kini tempat peristirahatan terakhirnya di Nagori Aman Raya, Kelurahan Pematang Raya, juga telah dipugar. Dialah dr. Djasamen Saragih, putra pertama Simalungun yang berhasil meraih gelar dokter pada tahun 1930-an.

Perjuangan dan pengabdiannya kembali diingat dalam peresmian pemugaran makam oleh Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih, Selasa 4/8/2026. Acara berlangsung khidmat dengan penyambutan adat, ziarah, doa bersama, dan penandatanganan prasasti.
Pada era 1930-an, meraih pendidikan kedokteran adalah hal yang hampir mustahil bagi putra daerah. Akses terbatas, biaya tinggi, dan jarak jauh menjadi tantangan.
“Perjuangan beliau menjadi seorang dokter pada masa itu bukanlah hal yang mudah,” kenang Patra Saragih, keluarga besar dr. Djasamen Saragih.
Keberhasilan dr. Djasamen menjadi bukti keberanian menembus batas. Meski kini sebagian besar keluarga berdomisili di Jakarta, mereka berjanji menjaga makam ini sebagai bentuk penghormatan abadi.
Ketua Umum Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun PACS dr. Sarmedi Purba menegaskan, sejarah tidak boleh dilupakan. “Sosok dr. Djasamen Saragih adalah bukti keberanian dan ketekunan luar biasa. Namanya kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di Pematangsiantar, menjadi bukti bahwa jasa dan pengabdiannya tetap hidup dan dirasakan hingga kini,” ujarnya.
Bupati Simalungun dalam sambutannya menyebut ada tiga nilai utama dari dr. Djasamen Saragih yang harus diteladani:
1. Keberanian menjadi yang pertama – berani menempuh pendidikan tinggi di masa sulit.
2. Semangat mengabdi kepada kemanusiaan – melayani tanpa membedakan suku dan agama.
3. Tidak melupakan asal-usul – tetap mencintai tanah kelahiran meski telah sukses.
Nilai-nilai itu sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Simalungun, Habonaron Do Bona.
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menyebut peresmian ini sebagai momentum menghidupkan kembali nilai luhur. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendahulunya, menjaga jejak sejarahnya, dan mewariskan nilai-nilai mulia kepada generasi penerus,” ucapnya.
Wakil Ketua DPRD Simalungun Jepra Manurung berharap perjuangan dr. Djasamen menjadi motivasi generasi muda untuk terus berjuang meraih cita-cita.
Bupati Anton berharap makam ini tidak hanya jadi tempat ziarah keluarga, tapi juga destinasi wisata sejarah dan pendidikan. Ia meminta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Dinas Pendidikan memasukkan kisah dr. Djasamen ke muatan lokal sejarah di sekolah.
“Para Pangulu dan guru di Kecamatan Raya diharapkan membawa anak-anak berkunjung ke makam ini, agar mereka tahu bahwa dari Kabupaten Simalungun ini pernah lahir seorang putra yang namanya harum sepanjang masa,” tegas Bupati.
Dengan penandatanganan prasasti, Bupati resmi menyatakan: “Makam Keluarga Almarhum dr. Djasamen Saragih di Nagori Aman Raya, secara resmi saya nyatakan telah diresmikan.”
Kini, jasa dr. Djasamen Saragih hidup dalam dua tempat: di papan nama RSUD Pematangsiantar yang melayani ribuan pasien, dan di pusara di Aman Raya yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang putra Simalungun. (ril/th)







