Model
Ekonomi

16 Tahun Disabilitas, Rapi Anak Kembar di Asahan Hidup Tanpa Bantuan: “Kalau Bisa Dapat Dana untuk Perawatan”

136
×

16 Tahun Disabilitas, Rapi Anak Kembar di Asahan Hidup Tanpa Bantuan: “Kalau Bisa Dapat Dana untuk Perawatan”

Sebarkan artikel ini

Laporan : Paimin

ASAHAN I DIAN24NEW.COM
Kisah pilu anak kembar tak sejalan nasib. Rapi, 16 tahun, warga Dusun II Desa Perkebunan Aek Nagaga, Kecamatan Rahuning, hidup dengan polio dan disabilitas sejak lahir. Sementara kembarannya, Rapa, tumbuh normal dan kini duduk di bangku kelas 2 SMA.

16 tahun menunggu bantuan. DTKS belum menjangkau. Rapi dan Rapa lahir 16 tahun silam dari pasangan Erdi 39 dan Juliani 37. Awalnya bayi kembar itu sehat. Usia 6 bulan sudah merangkak.

Tapi usia 9 bulan nasib berbalik. Rapa sudah jalan dan lari. Rapi baru bisa jalan umur 4 tahun. Dokter vonis polio.

“Kaki Rapi bentuk huruf X, lutut hampir bersentuhan. Jalan sering jatuh. Tubuhnya tidak tumbuh, malah makin mengecil,” kata Erdi, Kamis 19/06/2026 di rumahnya.

Baca Juga  Perumda Air Minum Tirta Uli Pematangsiantar Harus Tingkatkan Kinerja di Tahun 2026
Ket foto : 16 Tahun Disabilitas, Rapi Anak Kembar di Asahan Hidup Tanpa Bantuan:

Sehari-hari Rapi hanya duduk nonton TV. IQ rendah, bicara tanpa arah, bersorak kalau lihat TV yang disuka. Makan pun unik: tubuh ditelungkupkan mirip sujud hadap makanan. “Berdiri saja kaki gemetar. Jarang keluar rumah, warga Gunung Melayu banyak yang tidak tahu dia punya kembaran disabilitas,” tambah Juliani.

Rapi cuma sempat masuk SD “hitungan jari”. Fisik tak kuat ikut pelajaran. Rapa beda, normal, sudah SMA.

Jeritan Orang Tua, 16 Tahun Tanpa Bantuan
Ironis. Rapi rajin ikut posyandu waktu bayi. Minum ASI lebih cukup dari Rapa. Tapi saat didata desa, namanya tak pernah masuk penerima bansos.

“Tidak pernah dapat bantuan tunai/non tunai, makanan siap saji, alat bantu fisik, ATENSI. Didata sering, tapi nihil. Bantuan Covid dulu pernah atas nama saya, sekarang sudah tidak,” ujar Juliani.

Baca Juga  Warung Ayam Jingkrak di Pulau Rakyat Asahan Ludes Terbakar, Kerugian Puluhan Juta

Erdi kerja kuli bangunan. Upah pas-pasan, sering utang. Rumah layak huni, tapi ekonomi kurang mampu. “Kalau di Padang rumah ya dianggap mampu. Padahal kalau tak utang, kami tak punya apa-apa,” lirih Erdi.

Permintaan mereka sederhana: masuk DTKS dan dapat bantuan dana untuk hidup serta perawatan Rapi.

Ket foto : 16 Tahun Disabilitas, Rapi Anak Kembar di Asahan Hidup Tanpa Bantuan:

Kades Perkebunan Aek Nagaga Sawaluddin, Minggu 21/06/2026, benarkan Rapi penyandang disabilitas yang belum tersentuh bantuan. “Kami harap ini jadi perhatian Pemkab Asahan. Permohonan bantuan untuk Rapi dan disabilitas lain semoga terealisasi sesuai kebutuhan,” pungkasnya.

Kasus Rapi, wajah kelam data DTKS yang belum update dan bantuan disabilitas yang tersendat. Anak sudah 16 tahun, masa tumbuh emas terlewat tanpa terapi dan alat bantu.

Baca Juga  Sehari Pasca Kebakaran, Pemko Siantar Gas Verifikasi 143 Pedagang Pasar Dwikora: Bansos On, Rekening Bank Sumut Disiapkan

Polio bisa dicegah lewat imunisasi. Tapi yang sudah terlanjur, negara wajib hadir lewat ATENSI Kemensos dan bansos disabilitas.

Erdi-Juliani cuma minta keadilan kecil, anaknya bisa makan layak dan berobat, tidak cuma duduk menatap TV seumur hidup. (th/pass)