SIMALUNGUN | DIAN24NEW.COM
Program Makan Bergizi Gratis MBG yang digagas pemerintah pusat kini menimbulkan masalah baru di Desa Pulo Bayu, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun. Limbah cair dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG MBG Pulo Bayu diduga mencemari irigasi dan sungai kecil, hingga baunya sangat menyengat saat musim hujan.

Pantauan di lokasi, Rabu 2/9/2026, limbah sisa memasak dari dapur MBG mengalir langsung ke saluran irigasi depan rumah warga.
Salah seorang warga Desa Pulo Bayu yang enggan disebut namanya mengaku resah.
“Limbah MBG Pulo Bayu memang turun ke irigasi depan rumah kami. Jadi musim hujan pasti sangat menyengat baunya. Kita minta kepada media untuk tanyakan kepada pemilik MBG tersebut,” pintanya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lain. Mereka menilai keberadaan dapur MBG justru merugikan karena limbah cair membusuk dan mengalir ke lahan pertanian serta sungai kecil milik warga.
Saat dikonfirmasi, Manager SPPG MBG Pulo Bayu Agel Wilantara membenarkan belum adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah IPAL di lokasi dapur.

“IPAL kami masih belum ada pak. Sehingga bau memang terasa bagi warga sekitar kalau hujan turun. Kita sampaikan kepada warga, dalam dua minggu ini akan turun IPALnya. Sehingga limbah yang turun tidak bau atau merusak irigasi warga,” ucap Agel.
Ia juga berterima kasih kepada media yang turun langsung agar pemberitaan berimbang.
Badan Gizi Nasional BGN bersama Kementerian Lingkungan Hidup sebelumnya telah menegaskan bahwa setiap dapur MBG wajib memiliki fasilitas IPAL dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
Dapur yang tidak memenuhi standar diancam sanksi tegas, mulai dari teguran tertulis hingga penutupan sementara operasional.
Fakta di Pulo Bayu menunjukkan dapur MBG beroperasi tanpa IPAL, sehingga berpotensi melanggar aturan dan mencemari lingkungan.

Di sejumlah daerah lain, limbah organik dapur MBG mulai diolah menjadi pupuk atau pakan ternak menggunakan maggot untuk menekan dampak lingkungan. Namun inovasi itu belum terlihat di Pulo Bayu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan nyata dari pengelola maupun pemerintah daerah untuk menghentikan aliran limbah ke irigasi warga.
Warga berharap, sebelum IPAL benar-benar dipasang, operasional dapur MBG dievaluasi. Jangan sampai program yang tujuannya menyehatkan anak-anak justru mencemari lingkungan dan merugikan kesehatan masyarakat sekitar. (th/NSI)







