Model

Model

Model

Model
Pematangsiantar

Mencari Sosok Wali Kota Pematangsiantar Ke Depan

34
×

Mencari Sosok Wali Kota Pematangsiantar Ke Depan

Sebarkan artikel ini

Oleh Taman Haloho/26 April 2024

SIANTAR – DIAN24NEW 

Kota Pematangsiantar sudah selayaknya bangkit mengejar ketertinggalan dari kota – kota besar di Sumatera Utara (Sumut). Hal ini harus segera dilakukan kalau tidak sekarang, terus kapan lagi,?. 

Kota Pematangsiantar seharusnya lebih banyak berperan sehingga begitu orang datang ke Kota Pematangsiantar maka bisa merepresentasikan Sumut secara keseluruhan. Artinya Pematangsiantar sebagai pintu gerbang ke daerah – daerah, seperti Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Pakpak Barat, Dairi dan khususnya Wisata Parapat – Danau Toba tidak sekedar dilewati, tetapi benar – benar menjadi outlate sekaligus pusat aneka ragam aktivitas percepatan roda perekonomian di Sumut. Ini tugas mulia bagi Pemko Pematangsiantar ke depan untuk bekerja keras dan berupaya membangun brand atau image seperti itu.

Letak Kota Pematangsiantar yang sangat strategis di Sumut, apalagi ditunjang dengan segala infrastruktur dan sumber daya manusia yang relative lebih baik dibandingkan dengan daerah lainnya di Sumut. 

Pemko Pematangsiantar harus segera mereposisi diri untuk lebih fokus berupaya memperkuat pilar – pilar ekonomi kotanya agar mampu memberikan multiplier effect pada peningkatan nilai daya saing dan menumbuh kembangkan kewira-usahaan di masyarakat Pematangsiantar agar eksistensinya benar – benar dirasakan sebagaimana layaknya tuan dirumahnya sendiri karena mampu menjadi “link market” berbagai produk unggulan dari daerah – daerah sekitarnya. Berkaitan itu, Wali Kota Pematangsiantar kedepan harus memiliki karakter entrepreneurship yang kuat mampu melangkah lebih jauh untuk mencurahkan pikirannya dalam menciptakan terobosan-terobosan baru bagi perubahan dinamika ekonomi Kota Pematangsiantar ke depan. 

Sekaligus  memberikan imbas pada laju gerak penanaman investasi  di kabupaten/kota sekitar Pematangsiantar. Pola pikirnya tidak lagi berkutat sekadar bagaimana caranya menghabiskan APBD, tetapi  mampu menjadi inspirator terdepan untuk memunculkan rasa optimisme baru. Pemkot bersama  DPRD Kota Pematangsiantar perlu merevisi regulasi dalam upaya  memperluas networking bagi berbagai akses kepentingan yang berkaitan dengan penguatan ekspektasi pelaku usaha agar dapat berkiprah memajukan perekonomian daerah. ”Saya bermimpi seandainya saja Kota Pematangsiantar memiliki kawasan  industri pengolahan bahan baku yang bahan bakunya diambil dari kabupaten/kota di sekitar Pematangsiantar. Hasil olahan diekspor, sehingga mempunyai added value yang lebih tinggi, termasuk membuka lapangan kerja sangat luas bagi masyarakat. Sayangnya Kenyataan yang kita hadapi saat ini semakin membuat hati dan pikiran saya gunda. Setiap hari banyak orang datang  dan pergi  dari berbagai daerah hanya sekadar lewat di Kota Pematangsiantar, Di sisi lain kita terninabobokan  dengan wacana dan  predikat sebagai pintu Gerbang menuju wisata Parapat – Danau Toba. Untuk itu ada dua solusi penting yang bias dilakukan Walikota Pematangsiantar ke depan, yakni: Pertama, berupaya menginventarisasi potensi yang dimiliki Pematangsiantar, terutama dalam upaya memberdayakan manusianya. Harus ada target dan pola penguatan program program yang dilakukan secara terukur dan berkesinambanungan guna dimanfaatkan secara optimal mengikuti perkembangan. 

Bagaimana anda mau bertanding di arena globalisasi jika Anda sendiri lalai mengemas potensi diri Anda. ”Maka nonsen Anda akan menang”. Sesuai sifatnya  open market itu  melihat  profit dan efisien untuk itu  jangan cepat-cepat  terbuai dengan  gedung-gedung mewah dan menjulang kalau tidak memberikan  keuntungan. Kedua,  selain menjalankan program rutin yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat juga  harus memilih maksimal tiga program unggulan yang startegis kemudian dikawal secara  berkesinambungan arahnya  difokus kan agar dapat  mendorong percepatan  linkage aktifitas kehidupan masyarakat pada tingkat harmonisasi, heterogenitas sosial budaya dalam karya cipta keselarasan yang melahirkan sistem ekonomi baru. 

Hasil kombinasi semua potensi yang  sudah tersedia selama ini sebagai modal dasar membangun  icon Pematangsiantar masa depan. Dalam hal ini kalau boleh saya sarankan  segera Pemko menata kembali pola pikirnya untuk lebih menguatkan lagi program Pematangsiantar menjadi  Kota Jasa, MICE dan wisata seperti yang pernah dicanangkan Walikota Pematangsiantar yang terdahulu, yakni Nama-nama Wali Kota Pematangsiantar, yakni

1. O.K.H. Salamuddin (1956 – 1957)

2. Jamaluddin Tambunan (1957 – 1959)

3. Rakutta Sembiring (1960 – 1964)

4. Abner Situmorang (1964 – 1964)

5. Pandak Tarigan (1964 – 1965)

6. Zainuddin Hasan (1965 – 1966)

7. Tarif Siregar (1965 – 1966)

8. Drs. M. Pardede (1966 – 1967)

9 .Letkol Laurimba Saragih (1967 – 1974)

10 Kol. Sanggup Ketaren (1974 – 1979)

11. Kol. Drs. MJT. Sihotang (1979 – 1984)

12. Drs. Djabanten Damanik (1984 – 1989)

 13. Drs. Zulkifli Harahap (1990 – 1994)

 14. Drs. Abu Hanifah (1994 – 2000)

15. Drs. Marim Purba (2000 – 2005)

16. Drs. Nabari Ginting Msi (Pjs.) (2005 – 2005)

17. Ir. R.E. Siahaan (2005 – 2010)

18. Hulman Sitorus, SE (2010 – 2015)

Meskipun Pematangsiantar relatif minim dari segi obyek wisata namun bisa mengendos  obyek-obyek pariwisata kabupaten/kota lainnya dengan cara membuat platform kerja sama secara baik. 

Pilkada Siantar 2024 mendatang, diharapkan lahir wali kota sesungguhnya. Sosok perintis, bukan pewaris seperti dua periode sebelumnya. 

Sudah dua periode berlalu kita dipimpin oleh wali kota pewaris. Bukan perintis. Menjadi wali kota karena tak sengaja. Namanya gak sengaja, gak bisa kita tumpukan tanggung jawab atas kepemimpinannya secara moral. Dan wali kota pewaris selama ini juga terbukti tak membawa dampak positif pada kemajuan kota Pematangsiantar. Berkaca dari itu, saya berharap di Pilkada 2024, lahir pemimpin yang benar-benar perintis. Dimana, dengan lahirnya pemimpin yang benar-benar perintis, warga dapat menuntut tanggung jawab kepemimpinannya secara moral. Kalau yang tak sengaja pula jadi wali kota, kek mana kita mau berharap banyak. 

Menyongsong Pilkada Siantar 2024, dengan banyaknya para kandidat hal ini tentunya membuat warga bisa lebih banyak pilihan. Namun perlu diingat, tentu harus melihat dan menilainya dengan cermat. Kita berharap dua periode Pilkada sebelumnya takdir kelam tak terulang di Pilkada 2024 ini. Berharap, calon wali kota nantinya diharapkan mampu membangun Kota Pematangsantar lebih baik dan jadi pemersatu dari seluruh agama dan etnis. Menjaga, memelihara toleransi ummat beragama. Mengingat Kota Pematangsiantar terdiri dari masyarakat yang heterogen, juga harus mengembalikan Kota Pematangsantar menjadi Kota Pendidikan. Kota Tujuan Wisata dan Transit Perdagangan.  

Kemudian, tak kalah penting untuk saya mengulik bakal calon wakil wali kota. Rekam jejaknya juga harus baik. Jangan sampai sosok khianat dan pendusta. Apalagi yang mudah melupakan jasa orang. Wajib ditinggalkan demi mengantisipasi kemungkinan terburuk seperti dua periode sebelumnya. Dimana Sang Wakil Wali Kota harus menjadi wali kota. Disebabkan wali kota menemui ajalnya. Ketika wakilnya harus menggantikan wali kota, harapan saya tentulah sosok yang berintegritas, berwawasan dan memiliki keikhlasan membangun kemajuan Kota Pematangsiantar. Tapi sekali lagi kita sama – sama berdoa. Semoga itu tak terulang dan sembari berharap, kelak akan muncul calon wali kota dari beragam etnis, termasuk Simalungun. 

Seperti diketahui, sudah dua periode Pilkada Siantar, calon wali kota yang menang lebih dulu meninggal dunia sebelum pelantikan. Pertama Almarhum Hulman Sitorus dan kedua Almarhum Asner Silalahi. Kematian Hulman Sitorus digantikan wakilnya Hefriansyah Noor. Sedangkan Almarhum Asner Silalahi digantikan Susanti Dewayani yang sampai kini menjabat Wali Kota Pematangsiantar.***