SIMALUNGUN – DIAN24NEW
Banjir melanda tiga desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Ketiga desa yang dilanda banjir itu adalah Dusun Tigabolon Pane, Dusun Pintu Bosi dan Dusun Bahkapuran Pasar.
Dan banjir tersebut pun menerjang 7 unit rumah warga, merusak ratusan hektar lahan pertanian padi, jagung dan menjebol beberapa kolam ikan milik masyarakat.
“Setahu saya dan dari keterangan masyarakat, banjir seperti ini baru pertama kali terjadi, dan ini terjadi setelah adanya konversi di Bah Butong” ucap Pangulu Nagori Tigabolon Marisno Sitio kepada wartawan,Jumat (22/9/23)
Marisno Sitio mengatakan, bahwa banjir besar yang terjadi merupakan masalah baru. “Dimana peristiwa ini dianggap sebagai peringatan akan adanya banjir susulan yang lebih besar lagi. Jadi waspada saja, beberapa tahun lagi bisa-bisa kita tenggelam kalau tidak ada langkah antisipasi yang konkrit” kata Pangulu menambahkan.
Sampai dengan hari ini, sambung Sitio, pihaknya bersama masyarakat masih gotong royong membenahi dampak banjir yang terjadi beberapa hari lalu. “Ini saja kita gotong royong membersihkan material longsor yang menutup aliran daerah irigasi. Mungkin besok ini selesai” ucap Pangulu Nagori Tigabolon itu.
Pangulu itu juga menegaskan, hasil dari pengalaman ini, masyarakat menyimpulkan bahwa banjir yang terjadi di Tigabolon merupakan dampak dari konversi teh ke sawit di Sidamanik Bah Butong, karena selama ini, tidak pernah ada banjir sebesar ini terjadi di Tigabolon.
Dijelaskan Sitio, Masyarakat Nagori Tigabolon, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun bersama pemerintah setempat akan menggelar aksi penolakan konversi teh ke sawit.
'Aksi turun kejalan yang akan kita lakukan Inanti termasuk menuntut tanggung jawab PTPN IV atas musibah banjir yang menerjang Nagori Tigabolon. Dimana dari penelusuran yang dilakukan pihaknya, ternyata air memang berasal dari arah konversi di Kebun Bah Butong,” ungkapnya .
Banjir tersebut pun, lanjutnya, juga telah menerjang 7 unit rumah warga, merusak ratusan hektar lahan pertanian padi, jagung dan menjebol beberapa kolam ikan milik masyarakat.
Dia juga mengungkapkan, pihak PTPN IV telah ingkar janji terkait pembicaraan pembangunan kanal-kanal dan waduk di Nagori Tigabolon. Ini sebagai langkah antisipasi jika debit air besar terjadi, karena dampak dari konversi yang mereka lakukan.
“Ketika pertemuan di Kantor Direksi saat masih proses konversi, mereka berjanji akan membangun kanal dan waduk. Tetapi hingga konversi selesai, tidak ada satupun bangunan yang dijanjikan mereka terealisasi di Nagori Tigabolon,” ujar Marisno
Marisno menyebutkan, peristiwa ini sudah disampaikaN kepada Camat, dan telah diketahui Pemkab Simalungun, dalam hal ini Bupati, Radiapoh Hasiholan Sinaga. “Kita dan masyarakat akan membuat aksi, untuk menuntut serta menolak konversi yang sudah dilakukan,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, Marisno mengingatkan dan meminta masyarakatnya agar selalu waspada, apalagi saat hujan deras turun. Karena menurutnya, bencana yang lebih besar akan kembali terjadi, mengingat banjir ini adalah awal dari dampak konversi di Kebun Teh Sidamanik.
Diterangkan Pangulu Nagori Tigabolon, Marisno Sitio, ada beberapa titik banjir yang cukup parah, seperti di Dusun Tigabolon Pane, Dusun Pintu Bosi dan Dusun Bahkapuran Pasar. Ketinggian banjir di dusun-dusun tersebut bahkan sampai sepinggang orang dewasa.
Saat ini, pihaknya bersama Pangulu Manik Hataran, Babinsa Manik Hataran, Babinsa Tigabolon, Kepala Dusun (Kadus) Pintu Bosi, pihak UPTD Dinas PSDA Sidamanik bersama masyarakat, telah melakukan langkah awal, dengan mengalihkan aliran air agar tidak masuk ke pemukiman warga.. “Kita bekerja sama untuk antisipasi awal dengan melakukan pengalihan aliran air, agar banjir tidak semakin parah,” akunya.
Diterangkan, pihaknya bersama Dinas PSDA dan unsur pemerintah lainnya juga telah menelusuri penyebab maupun sumber banjir besar yang menerjang Nagori Tigabolon.
Dengan kesimpulannya, debit air yang begitu besar ternyata bersumber dari Kebun Bah Butong. Diketahui Kebun Bah Butong merupakan lokasi program konversi tanaman teh ke sawit, yang dilaksanakan PTPN IV Kebun Teh Sidamanik.
Ia juga menyebutkan, banjir besar itu memang dampak konversi teh ke sawit di Kebun Bah Butong, dengan luasan konversi mencapai 257 hektar. “Ya memang dampak konversi, debit air begitu besar dari Bah Butong, sehingga saluran air tidak dapat menampung, hingga menerjang pemukiman masyarakat” ucapnya.
Camat Sidamanik Linus Silalahi mengatakan, pihaknya sedang mendata korban banjir yang melanda tiga desa di Kecamatan Sidamanik.
“Saat ini Pangulu sedang mendata dan akan secepatnya membuat laporan korban terdampak banjir. Belum dilaporkannya. Nanti mengarang-mengarang salah aku, karena berbeda nanti datanya sama yang diberikan bantuan Dinas Sosial,” ujar Linus.
Disampaikan Linus lagi, pihak kecamatan dan personel Danramil sudah datang ke rumah-rumah untuk membantu warga membersihkan rumah mereka dari lumpur yang timbul dibawa air.
Sementara itu, Manager PTPN IV Kebun Unit Teh Sidamanik Hwin Dwi Putra, melalui Asisten SDM Kebun Teh Sidamanik Halim Siregar dikonfirmasi wartawan, Jumat (22/9/2023) melalui pesan Whatsapp-nya membantah pendapat warga tersebut.
Ia beralasan, jarak lokasi konversi teh yang ada di Bah Butong sangat jauh dengan lokasi banjir di Tigabolon. Ia juga yakin air tidak akan meluap dari parit isolasi yang mereka buat di areal sawit.
“Jarak dari Bah Butong aja jauh, dan lagi areal sawit sudah kami buat parit isolasi untuk menghindari luapan air. Dengan parit isolasi itu, air jadinya tidak keluar. ngumpul di dalam parit” jawab Halim Siregar.
Halim juga tidak banyak berkomentar soal pernyataan Pangulu Tigabolon, yang telah melakukan penelusuran asal usul air penyebab banjir, dan menyimpulkan banjir akibat dampak dari konversi.
“Iya itulah jawaban dari kita” ucap Halim singkat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun Resman Saragih mengaku telah mendata rumah warga yang rusak yang disebabkan banjir bandang yang melanda tiga desa di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun tersebut.
Selain telah mendata kerusakan, Kepala BPBD Kabupaten Simalungun Resman Saragih juga mengakui bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan camat beserta instansi terkait untuk melakukan kajian cepat atas banjir tersebut
“Hasil penelusuran yang dilakukan tim Kecamatan dan PSDA, penyebab banjir adalah akibat tingginya curah hujan sehingga bendungan Bahal Gajah Tiga Bolon tidak mampu menampung air. Sehingga mengakibatkan air meluap ke pemukiman warga,” ujar Resman Saragih dikonfirmasi wartawan
Guna mengantisipasi banjir susulan, kata Resman Saragih, pihaknya membangun kerja sama untuk sama-sama melakukan penanganan sekunder.
“BPBD akan bekerja sama dengan instansi terkait seperti camat beserta Muspika dan pangulu untuk bersama-sama melakukan upaya penanganan dampak sekunder akibat banjir, seperti pertanian, perikanan dan yang lainnya,” ujar Resman lagi.
Hasil cermatan di lapangan terkait dampak banjir yang timbul tersebut pun akan disampaikan juga kepada BPBD Provinsi dan juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Editor. : Taman Haloho










