SIANTAR – DIAN24NEW
Sampah merupakan sisa dari kegiatan sehari hari manusia, dan/atau proses alam berbentuk padat yang perlu ditangani secara tepat agar tidak mencemari lingkungan. Namun proses penanganan sampah di Kota Pematang Siantar sering berjalan tidak semestinya.
Fakta menunjukkan ada lebih banyak sampah yang berakhir di TPA. Padahal, TPA bukan tempat untuk mengolah sampah dan tidak aemua sampah harus pergi kesana. Alhasil, beragam masalah pun datang mengganggu kondisi TPA.
Sampah begitu cepat menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Tanjung Pinggir Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematang Siantar. Akibatnya, sudah menjadi pemandangan biasa kalau puluhan truck yang mengangkut sampah dari berbagai lokasi terpaksa harus antri panjang menunggu sampai diurai. Bahkan, para sopir ada yang menunggu sampai dua jam.
Kelebihan kapasitas atau overload menjadi salah satu masalah yang dihadapi TPA Tanjung Pinggir. Gunungan sampah terbuka itu berpotensi mencemari lingkungan, mulai dari tanah, udara, juga sumber air bagi warga sekitar.
Tidak hanya itu, tumpukan sampah yang semakin meninggi juga terancam mengalami longsor. Jika sudah begini, keberadaan TPA bagian dari solusi atau hanya sumber masalah yang perlu ditutup?
Pantauan di sekitar TPA Tanjung Pinggir, saat sampah akan turun, sejumlah masyarakat lebih dulu menyortir sampah plastik akan dibersihkan kemudian dijemur sampai kering untuk dijual. Kemudian, ada yang mengambil jenis -jenis sayuran maupun taman yang akan dicampur tanah untuk dijadikan kompos.
“Kami memang selalu memilih sampah yang dapat dijual untuk menambah penghasilan,” kata seorang perempuan yang dibantu suami dan anaknya untuk mengumpul sampah palstik. “Ini nanti di ersihkan pagi dan dijemur. Setelah dikumpulkan sampai banyak baru dijual,” akunya.
Sementara, sampah setelah ditumpahkan dari truck maupun mobil pickup, langsung di tarik eskapator untuk ditplak ke lokasi TPA agar tidak menumpuk dilokasi pembuangan. Namun, karena eskapator hanya satu unit, tidak bisa langsung bekerja cepat. Sehingga, sampah tamoak begitu menggunung.
Pendeta Pandapotan Haloho, pengurus Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Utara (WALHI SUMUT), ketika dimintai tanggapannya terkait kondisi terkini TPA Tanjung Pinggir, Senin (25/3/2024), mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Pematang Siantar seharusnya memikirkan sektor lingkungan hidup menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan program pelayanan publik dan pembangunan physik bagi penduduk Kota Pematang Siantar dan sekitarnya.”Karena lingkungan yang tidak sehat merupakan investasi negatif dalam kehidupan masa depan masyarakat Kota Pematang Siantar khususnya,” jelasnya.
“Kami (Walhi Sumut) akan telusuri RTRW nya Siantar, apa melanggar Tata Ruang atau RTRW di Hiraukan”, ujarnya. (th)










