SIMALUNGUN I DIAN24NEW.com
Mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat, PTPTPN IV yang berada di Sidamanik, Kabupaten Simalungun, tetap melakukan konversi dari tanaman Teh ke tanaman Kelapa Sawit. Bahkan ratusan hektar sudah dibuka pihak perkebunan yang mengancam 2 nagori disekitarnya.
Beberapa warga yang terkena dampak konversi, menyatakan penolakan kerasnya, meminta pemerintah untuk membatalkan niat PTPN IV. “Sudah dari dulu, puluhan tahun lalu kami menyatakan masyarakat dan hampir semua warga, ada ribuan jelas- jelas menolak konversi,” pukas Narto Siahaan, mengaku warga Bahal Gaja, Kecamatan Sidamanik, ditemui Senin (8/09/2025), Jalan Sarimatondang, Sidamanik.
Didampingi warga lainnya, Narto kepada DIAN24NEW.com, mengungkapkan konversi mengancam hidup mereka yang bisa berdampak pada kehidupan sehari- hari masyarakat maupun aktivitas mereka. “Dipastikan dampaknya banjir, itu pasti kenanya sama masyarakat. Kalau sudah banjir, semua jadi berdampak, aktivitas kami sehari- hari dan mata pencarian kami,” tegas Narto, diamini warga lainnya.
“Janganlah karena kebutuhan pihak perkebunan, kami masyarakat sekitar menjadi sengsara. Sekalian usir saja kami dari disini, supaya bebas kebun mau ngapain semaunya,” sesal Anggiat, masyarakat setempat.
Konversi yang dilakukan PTPN IV di Sidamanik, ini diamini Bernhard Damanik, anggota DPRD Kabupaten Simalungun, menyebutkan pihak kebun telah membuka sekitar 159 hektar lahan, awalnya tanaman kebun Teh menjadi tanaman Kelapa Sawit. Dalam dua kali pertemuan antara pihak PTPN IV, perwakilan masyarakat dan pemerintah setempat, Bernhatd menerangkan konversi seluas 349 hektar, adalah lahan yang sudah 10 tahun lebih tidak ditanami tanaman Teh. ” Benar dari 349 hektar, 159 ditanami dan sisanya direncanakan penanaman Sawit,” ujar wakil rakyat dari daerah pemilihan Kecamatan Sidamanik ini, Selasa (9/9/2025) dikediamannya.
Diakuinya, sampai saat ini masyarakat tetap menolak dan pihaknya menegaskan tidak ingin tanaman Teh dicabut dan dialih fungsikan. Apalagi menurutnya, saat ini untuk tanaman Teh, pihak perkebunan sudah memperoleh untung. “Dulu memang kebun merugi dari Teh, selalu disubsidi dari tanaman sawit. Tapi saat ini sudah beruntung,” ungkap politisi dari Partai Nasdem ini.
“Sudah sosialisasi 2 kali, juga belum mengetahui strategi kebun melakukan konversi. Tapi tupoksi dalam lingkungan harus dijalankan seperti Amdal yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup. Juga harus ada jaminan tidak Banjir, apa bila banjir, perusahaan harus bertanggungjawab,” kata Bernhard.
Senada ucapan warga, Bernhard menyebutkan ada 2 Nagori akan berdampak banjir bandang dari konversi tersebut. “2 Nagori dipastikan di Nagori Bahal Gaja dan Nagori Tiga Bolon, Nagori lain dimungkinkan juga kena dampaknya,” terang Bernhard.
Editor. : Taman Haloho
Wartawan : Rudi Malau







