SIMALUNGUN – DIAN24NEW
Masih dalam suasana Tahun Baru, beragam tempat wisata kini ramai dikunjungi warga untuk jalan-jalan, menghabiskan akhir pekan bersama teman, keluarga, ataupun pasangan, mengunjungi destinasi wisata yang belum pernah didatangi, atau sekedar staycation
Aksesibilitas, termasuk jalan merupakan salah satu aspek terpenting untuk mendorong dan menjaga minat masyarakat menuju sebuah destinasi wisata.
Sayangnya, momentum kebangkitan pariwisata danau toba itu tidak dibarengi dengan perbaikan akses jalan
Destinasi wisata Geopark Danau Toba di Tigaras Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) misalnya, Tidak sedikit wisatawan yang mengeluhkan sulitnya akses jalan ke sana, sekalipun dengan menggunakan kendaraan roda dua.
Walaupun sudah menjadi wisata populer, bagi kebanyakan pengunjung Simpang Raya – Tigaras Danau Toba. Sulitnya akses jalan menuju lokasi akan selalu menjadi kenangan bagi para pengunjungnya.
Sekalipun akses jalan memutar dari Sidamanik, tetapi akses mencapai lokasi wisata ini masih cenderung buruk. Jalan menuju destinasi wisata super prioritas Danau Toba dari arah Simpang Raya, Kecamatan Panei menuju Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, tepatnya di Nagori Sibuntuon tampak sangat memprihatinkan.
Aspal dengan kontur jalan naik dan turun itu telah banyak yang rusak. Entah karena faktor alam atau lainnya. Kendaraan yang melaluinya pun mau tidak mau harus ekstra hati-hati. Kondisi rawan terjadi saat cuaca tidak bersahabat. Jika turun hujan dalam waktu 1 jam, jalur itu akan tertutup air yang menyerupai kolam ikan. Hal itu terjadi kurun waktu 2 tahun belakangan. Salah sedikit, nyawa taruhannya.
Salah seorang warga, Grace Naibaho sangat mengeluh akan hal itu. Dituturkannya, setiap hujan turun, orang tuanya terpaksa harus turun ke parit untuk menggali agar air tidak membanjiri kediaman mereka.
“Di depan rumahku juga kalau datang hujan pasti banjir, karena tidak ada parit. Makanya asal banjir, menggali parit lah orang bapak,” keluhnya, pada Selasa (9/1/2024).
Dikatakan, perihal jalan yang rusak dan kerap terjadi banjir sudah pernah dimusyawarahkan dengan perangkat desa pada pertengahan tahun 2023 lalu dan telah dilakukan perbaikan. Namun, hal itu tak bertahan lama.
“Kemarin sempat dibagusin, tapi toh juga seperti begitu. Waktu itu masih ada yang bagus setengah jalannya, pas gotong royong cuma di tambal pakai batu-batuan saja,” ungkapnya.
Perihal itu, ia berharap agar Pemkab Simalungun memberi perhatian dan segera memperbaiki permasalahan yang merugikan masyarakat di desanya.
“Ya harapannya jalan sama parit-paritnya lebih diperhatikan. Parit ini belum pernah diperbaiki, lebih diperdalam begitu. Daerah rumahku, sama rumah orang-orang yang di bawah langganan banjir lah kalau sudah hujan, was-was jadinya,” ujar mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Pematang Siantar ini.
Sebelum ada perbaikan ruas jalan di Simpang Raya, Grace mengungkapkan, sejumlah Angkutan Desa (Angdes) yang biasa menuju kampung halamannya itu enggan untuk melintas. Hal itu menyebabkan para pelajar di daerahnya harus telat ke sekolah setiap harinya.
“Kemarin sebelum dibagusin jalan yang dari Simpang Raya, sempat gak ada lagi angkot ke sini bang, paling cuma berapa unit saja. Waktu itu anak sekolah yang berangkat pagi pasti telat, tapi ini sudah agak mending lah dari pada tahun-tahun yang lalu,” ujarnya menambahkan.
Sebagai tambahan, ruas jalan disebut merupakan salah satu akses menuju Danau Toba juga Pelabuhan Tigaras. Namun demikian, akibat kondisi jalan yang rusak parah, para wisatawan enggan untuk melalui jalur itu.
Editor. : Taman Haloho










