Example 120x600
Peristiwa

Misteri Simpang Tunggul 45: Tunggul Kayu Raja yang Tak Bisa Dipindah dan Kota Gaib di Jalinsum Asahan

722
×

Misteri Simpang Tunggul 45: Tunggul Kayu Raja yang Tak Bisa Dipindah dan Kota Gaib di Jalinsum Asahan

Sebarkan artikel ini
Ket foto : Misteri Simpang Tunggul 45: Tunggul Kayu Raja yang Tak Bisa Dipindah dan Kota Gaib di Jalinsum Asahan.(doc foro : pass)
Ditulis Oleh. : Paimin (wartawan DIAN24NEW Biro Asahan)

ASAHAN | DIAN24NEW.COM
Tunggul 45 adalah nama sebuah desa di Kecamatan Pulau Rakyat yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Meskipun berada di dalam kawasan perkebunan kelapa sawit yang dikelola PTPN IV, desa ini menyimpan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan era perjuangan kemerdekaan Indonesia. Wilayah ini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah “Simpang Tunggul”.

Simpang Tunggul merupakan persimpangan jalan yang menghubungkan Pondok AFD III Kebun Pulu Raja, Dusun I Desa Tunggul 45 dengan Jalan Lintas Sumatera Jalinsum. Di sisinya berdiri kokoh sebuah tunggul kayu besar yang sudah berusia ratusan tahun.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, tunggul tua yang merupakan sisa Pohon Kayu Raja itu pernah dipindah dengan alat berat buldozer ke tempat lain, karena akan dilakukan penanaman pohon kelapa sawit oleh pihak perkebunan. Tapi aneh bin ajaib, keesokan paginya tunggul kayu tersebut sudah pindah secara gaib ke tempat semula.

Baca Juga  Pria di Pematangsiantar Ditangkap Saat Berdiri di Pinggir Jalan SM Raja

Mitos itulah yang menginspirasi Kepala Desa Tunggul 45 terdahulu, Masdi, memugar tunggul kayu dengan sebuah bangunan mirip joglo beratap seng tanpa dinding. Tunggul berbobot lebih dari seratus kilogram, tinggi 2,3 meter dan lebar kaki akar 2 meter itu didirikan di atas lantai keramik, dan di sudut luar joglo terdapat batu prasasti.

Batu prasasti itu bertulis “Tunggul ini adalah saksi sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Disinilah para pejuang kemerdekaan saat bergerilya dari berbagai sektor meletakkan sandi tanda sebagai pusat informasi perjuangan, Tunggul ini juga dijadikan nama Desa Tunggul 45”. Dipugar pada tahun 2009 oleh Kepala Desa Tunggul 45 yang ke-5, Masdi masa bakti 2000-2006 / 2006-2011.

Mitos dan cerita mistis Simpang Tunggul konon terkenal angker, dan dipercaya sebagian masyarakat sebagai tempat tinggal atau sarang makhluk gaib. Simpang Tunggul ini juga merupakan salah satu titik kawasan rawan kecelakaan laka dan sudah banyak memakan korban jiwa.

Baca Juga  Puluhan Siswa TK Kunjungi Kantor Damkar Sei Piring Diguyur Air Damkar

“Banyak pengendara yang mengaku melihat sosok aneh sebelum kecelakaan terjadi, tapi sejak Joglo Tunggul ini dibangun, kini sudah jarang terjadi laka di kawasan wajib klakson,” kata Julah, warga Desa Persatuan.

Lain lagi cerita Salman 45 warga Desa Pulau Rakyat Tua yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk pengangkut kelapa sawit. Kisah ini terjadi sekitar delapan tahun lalu, ketika ia sedang antre di Ram penampungan sawit di Aek Kuasan.

Menurut Salman, suatu ketika pada pagi buta tiba-tiba datang seorang pria paruh baya entah dari mana asalnya dengan kondisi tubuh sangat letih dan keringat dingin. Ia menanyakan tempat penjualan sparepart atau onderdil suku cadang kendaraan. Karena, mobil Kijang Kapsul miliknya yang membawa rombongan mudik dari Bengkulu menuju Medan mogok akibat patah as di Jalinsum kawasan Simpang Tunggul.

Pengakuan pria itu, ia sudah berjalan menyelusuri sebuah tempat yang mirip kota dan banyak terdapat ruko-ruko di sepanjang jalan dari Simpang SMPN 1 Pulau Rakyat hingga Simpang Aek Kuasan, tapi tak satu pun toko yang menjual suku cadang kendaraan.

Baca Juga  Pemkab Asahan Terima Kunjungan Kerja DPRD Provinsi Sumatera Utara Bahas Ranperda Pesantren

Mendengar penuturan pria itu Salman dan seorang temannya merasa terkejut dan heran, karena kawasan Jalinsum Pulau Rakyat – Aek Kuasan merupakan kebun kelapa sawit dan tidak ada kota maupun toko. Sementara jalan juga sunyi dan minim penerangan.

Hal itu dibuktikan Salman bersama temannya sembari mengantarkan pria tersebut dengan sepeda motor hingga ke tempat mobilnya yang rusak.

“Sepanjang jalan dari Simpang Aek Kuasan hingga Simpang SMP ternyata tidak ada kota atau bangunan ruko yang dilihatnya, kecuali perkebunan kelapa sawit. Barulah disadarinya bahwa kota yang dijalaninya merupakan kota alam gaib, tapi untung saja ia tidak tersesat ke alam yang lebih jauh,” kata Salman mengakhiri ceritanya kepada wartawan, Selasa 6/10/2026.*****