SIMALUNGUN – DIAN24NEW.com
Selain belum mendapatkan kepastian hukum selama lebih kurang 8 tahun, kasus tragedi robohnya proyek bak air yang di danai dana desa tahun anggaran 2017, yang telah menghilangkan nyawa dua Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) berbuntut panjang. Pasalnya, dalam.penanganan kasus tragedi robohnya proyek bak air tersebut kembali muncul kasus baru yakni dugaan kasus DPO (Daftar Pencarian Orang) palsu.
Atas dugaan kasus DPO palsu itu, Kapolsek Silau Kahean AKP Jahoras Sinaga dan Kanit Res IPDA Ganda Sinaga serta Pangulu Nagori Dolok Saribu Bangun, Jonnery Saragih dilaporkan ke Propam Polda Sumut. Oleh Muliamen Damanik, Agusman Damanik, Sabarman Damanik dan Mariana Boru Naenggolan.
Informasi yang diterima dan dikumpulkan Dian24New.com, Selasa (20/8/2024, terkait perkembangan Penyidikan atas nama pelapor Sabarman Damanik , Muliamen Damanik , Agusman Damanik, pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2024, ketiga orang ini di Panggil oleh Polda Sumut sesuai surat panggilan Polda Sumut No SP/834/VII/WAS21/2024/A/Subdir Wabprof an pelapor Mulimen, SP/835/VII/WAS21/2024/A/Subdir Wabprof an pelapor Agusman Damanik, SP/836/VII/WAS21/2024/A/Subdir Wabprof an pelapor Sabarman Danik dan SP/837/VII/WAS21/2024/A/Subdir Wabprof an pelapor Mariana Boru Naenggolan.
Dan panggilan ini juga sudah dipenuhi oleh ke tiga orang tersebut sebagai saksi pelapor terkait kasus tragedi robohnya proyek bak air yang di danai dana desa tahun anggaran 2017, yang telah menghilangkan nyawa dua Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun, yang sampai saat ini belum juga selesai (belum mendapat kepastian hukum)
“Kasusnya mulai dari tahun 2017, sampai saat ini belum di tetapkan tersangkanya. Yang mana pihak Kepolisian Simalungun mengaku hanya terus mendalami. Melihat hal ini, maka pihak pelapor melaporkan hal tersebut ke Propam Polda Sumut, yang mana banyak kejanggalan yang di temukan, diantaranya adanya surat DPO an Jon Sabarman Damanik di Tahun 2018.,” ucap Sabarman Damanik kepada Dian24 New.Com, Selasa (20/8/2024)
Ke sore harinya, sambung Sabarman Damanik memenuhi Panggilan Polres Simalungun yang sebelumnya belun di hadiri, karena udah pindah ke Jakarta yang mana, karna istrinya yang turut korban pada kejadian itu merasa trauma di kampung dan masi rutin untuk terapi. Dari hasil Pemeriksaanya seperti di Paksakan untuk jadi kepala tukang,” ujarnya
Padahal.syarat ke situ harus Pegang RAB dan Anggaran yang jelas. Dalam pengakuan Sabarman Damanik semua yang mulai belanja bahan , ngatur tukang , gaji Adalah Pangulu dan Pengawas bahan Gamot Masang Damanik
“Maka harapan saya ke Penyidik jangan diputar – putar lagi secara kasat mata udah jelas siapa yang buka Air jalan kan ke BAK yg belun Selesai dan siapa Pengelola anggaran Tetapkan jadi tersangka .
Sebelumnya, diberitakan Dian24New.Com, Diduga ada sesuatu yang sifatnya sangat pribadi dibalik kasus tragedi robohnya proyek bak air yang di danai dana desa tahun anggaran 2017, yang telah menghilangkan nyawa dua Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Dimana, hingga sampai saat ini, lebih kurang 8 tahun belum.juga mendapat kepastian hukum.
Informasi yang berhasil dikumpulkan, dalam kasus tragedi robohnya bak air di Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun, Sumut ini menelan dua korban jiwa dua Ibu Rumah Tangga (IRT), yakni Roma Hutauruk (39) dan Nurhaini Saragih (38), pada Desember 2017, hingga Juli 2024 ini belum.juga mendapatkan kepastian hukum.
Informasi yang berhasil dikumpulkan, dalam kasus tragedi robohnya bak air di Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun, Sumut ini menelan dua korban jiwa dua Ibu Rumah Tangga (IRT), yakni Roma Hutauruk (39) dan Nurhaini Saragih (38), pada Desember 2017, hingga Juli 2024 ini belum.juga mendapatkan kepastian hukum.
Adapun kronologi kejadian, Rabu 20 Desember 2017, sekitar pukul 14.00 Wib, Pangulu Nagori Dolok Saribu Bangun Jonneri Saragih, bersama perangkat desa datang ke Dusun Partimalayu, guna untuk menguji coba proyek pembangunan saluran air minum yang di danai oleh dana desa tahun anggaran 2017. Uji coba ini pun dilakukan, dengan mengalirkan air dari umbul ke bak penahan air yang baru selesai dibangun.
Selanjutnya, sekitar pukul 16.00 Wib, aliran air dari umbul mencapai bak penahan air dan hal ini tentunya disambut gembira oleh warga, dimana warga dapat memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan mencuci pakaian.
Namun naas, kegembiraan warga tersebut spontan berubah drastis, karena menjadi tragedi, dimana tiba – tiba terdengar suara teriakan histeris warga disekitar bak mandi dan saat itu tampak beberapa warga berlarian keluar karena bak penahan air tersebut pecah hingga menelan dua korban jiwa.
Atas kasus tragedi ini, keluarga korban sampai saat ini masih penasaran dan menyampaikan ketidak puasan mereka terdahap penanganan kasus ini. Dimana, hingga kini kasus tragedi bak pecah ini belum ada perkembangan berarti dari penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Polres Simalungun.
Kepada wartawan Media Cyber Dian24New.Com, salah satu keluarga korban bermarga Sipayung menyatakan kekecewaannya. ” Selama ini kasus tragedi bak di desa pedalaman seperti kami sepertinya diabaikan. Apakah karena kami warga desa yang jauh dan bodoh,” ujarnya dengan nada penuh emosi, dan mata berkaca kaca seperti hendak mengeluarkan air mata (menangis).
Kemudian, sambungnya dalam kasus ini, pihak kepolisian Polres Simalungun juga telah melakukan gelar pra olah TKP di Dusun Partimalayu, Nagori Dolok Saribu Bangun, yang tampak dihadiri Kanit Reskrim Polres Simalungun bermarga Girsang.
“Tapi herannya, dalam olah TKP mengapa hanya TPK dan Tukang pipa yang dihadirkan. Yang bertanggungjawab tentang bangunan yakni Pangulu Nagori Dolok Saribu Bangun tidak hadir di lokasi, ada apa?,” ujarnya terheran – heran.
“Dan sesuai keterangan saksi – saksi, bahwa sesat sebelum peristiwa terjadi Jhon Sedi Sipayung dan Pangulu mengecek pipa dari umbul dan air dialirkan mengisi bak. Selanjutnya beberapa lama kemudian setelah mereka saksikan air mengalir dan tidak ada kebocoran, keduanya pergi dari lokasi. Dan sekira jam 18 lebih bak pecah,” jelasnya mengulang keterangan saksi. (tim)







